Selasa, 04 Februari 2014

Tidak Halal Seorang Muslim Menjauhi Kawannya

Dan dari situlah, maka Islam mengharamkan seorang muslim berlaku kasar terhadap kawannya, memutuskan hubungan dan menjauhinya. Islam tidak memperkenankan seorang muslim menjauhi kawannya, kecuali dalam batas tiga hari, sehingga tenanglah kemarahan kedua belah pihak. Kemudian mereka berdua harus berusaha untuk memperbaiki, menjernihkan suasana dan mengatasi perasaan-perasaan congkak, benci dan permusuhan. Sebab di antara sifat-sifat yang terpuji dalam al-Quran ialah:
“Merendah diri terhadap orang-orang mu’min.” (al-Maidah: 54)
Sabda Rasulullah s.a.w.:
“Tidak halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (Riwayat Abu Daud)
Lebih hebat lagi haramnya memutuskan silaturrahmi ini apabila terhadap keluarga yang oleh Islam diwajibkan untuk menyambungnya dan melindungi kehormatannya.
Firman Allah:
“Dan takutlah kamu kepada Allah yang padaNya Kamu meminta dan jagalah keluarga karena sesungguhnya Allah maha mengawasi atas kamu.” (an-Nisa’: 1)
Rasulullah s.a.w. menggambarkan silaturrahmi ini dan nilainya, dalam salah satu sabdanya sebagai berikut:
“Kekeluargaan bergantung di Arsy, ia akan berkata: barangsiapa menghubungi aku, maka Allah pun akan menghubunginya; dan barangsiapa memutus aku, maka Allah pun akan memutusnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Mendoakan Keburukan Untuk Orang yang Menzalimi

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Dizalimi dan dianiaya, pasti setiap orang tidak suka. Sehingga saat terzalimi ia akan berbuat apa saja agar terhindar dari kezaliman itu. Jika mampu, ia akan menghentikan kezaliman atas dirinya dengan tenaganya atau lisannya. Namun bagaimana jika ia tidak memiliki kemampuan?
Boleh jadi doa menjadi senjata terakhir baginya. Ia menghaturkan kepada penguasa alam semesta (Allah Subhanahu wa Ta'ala) atas kezaliman yang dialaminya dan meminta kebinasaat untuk orang yang terlah berbuat zalim kepadanya. Dan berdasarkan sabda Rasul-Nya, Allah akan mengabulkan doa orang yang terzalimi.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ
"Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang puasa sampai ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi." (HR. Al-Tirmidzi)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berpesan kepada Mu'ad bin Jabal saat mengutusnya ke Yaman,
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
"Dan takutlah doa orang terzalimi, karena tidak ada hijab (penghalang) antara ia dengan Allah." (Muttafaq 'Alaih)
Status Mendoakan Keburukan Atas Orang Zalim
Pada dasarnya, dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.
Allah Ta'ala berfirman,
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
"Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Nisa': 148)
Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: "Allah tidak suka seseorang mendoakan keburukan untuk selainnya, kacuali ia dalam keadaan dizalimi. Allah memberikan keringanan baginya untuk mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.dan itu ditunjukkan oleh firman-Nya, "Kecuali oleh orang yang dianiaya." (namun), jika bersabar maka itu lebih baik baginya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat di atas)
Firman Allah yang lain,
وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ
"Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka." (QS. Al-Syuura: 41)
. . . dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya. . .
Namun, apakah ini yang terbaik baginya? Tidak. Jika ia membalas kepada orang yang menzaliminya dengan doa keburukan, maka ia tidak mendapat apa-apa karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan (kepuasan).
Berbeda jika doanya dengan niatan agar orang-orang tidak lagi menderita akibat kejahatannya, maka ia mendapat pahala dengannya. Terlebih jika niatnya untuk menghilangkan kezaliman, menegakkan syariat Allah dan hukum-Nya, maka pahala yang didapatkannya lebih banyak.

:)

You know all the things I've said
You know all the things that we have done
And things I gave to you
There's a chance for me to say
How precious you are in my life
And you know that it's true

To be with you is all that I need
'Cause with you
My life seems brighter and these
are all the things
I wanna say...

I will fly into your arms
And be with you
Till the end of time
Why are you so far away
You know it's very hard for me
To get myself close to you

You're the reason why I stay
You're the one who cannot believe
Our Love will never end
Is it only in my dream?
You're the one who cannot see this
How could you be so blind?

To be with you is all that I need
'Cause with you
My life seems brighter and these
are all the things
I wanna say...

I will fly into your arms
And be with you
Till the end of time
Why are you so far away
You know it's very hard for me
To get myself close to you

I wanna get
I wanna get
I wanna get myself close to you

I will fly into your arms
And be with you
Till the end of time
Why are you so far away
You know it's very hard for me
To get myself close to you

I wanna get
I wanna get
I wanna get myself close to you
I wanna get myself close to you.

KISAH SITI FATIMAH AZ ZAHRA

Lahirnya Siti Fatimah Az Zahra r.a merupakan rahmat yang telah dilimpahkan Ilahi kepada Nabi Muhammad SAW. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana benih yang akan menumbuhkan pohon besar penyambung keturunan Rasulullah SAW. Ia satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenali umat Islam di seluruh dunia. Siti Fatimah Az Zahra r.a dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jamadil Akhir, lebih kurang lima tahun sebelum Rasulullah SAW di angkat menjadi Rasul.
Siti Fatimah Az Zahra r.a membesar di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah pertarungan sengit antara Islam dan jahiliyah, di kala sedang hebatnya perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.
Ketika masih kanak-kanak, Siti Fatimah Az Zahra r.a sudah mengalami penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Dia berkenalan dengan pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun, dia bersama ayah bondanya hidup menderita dibuang daerah akibat pemboikotan orang-orang kafir Quraisy terhadap keluarga Bani Hasyim.
Setelah bebas penderitaan setelah 3 tahun diboikot, datang pula ujian berat atas diri Siti Fatimah Az Zahra r.a, apabila wafatnya bonda tercinta, Siti Khadijah r.a. Perasaan sedih selalu sahaja menyelubingi hidup sehari-harinya dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih sayang ibu.
Rasulullah SAW sangat mencintai puterinya ini. Siti Fatimah Az Zahra r.a adalah puteri bongsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW merasa tidak ada seorang pun di dunia, yang paling berkenan di hati baginda dan yang paling dekat di sisinya selain puteri bongsunya itu.
Demikian besar rasa cinta Rasulullah SAW kepada puteri bongsunya itu dibuktikan dengan Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut Hadis tersebut, Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina Ali r.a demikian:
Wahai Ali, sesungguhnya Fatimah adalah bahagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku, dan siapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku…”
Penyataan baginda itu bukan sekadar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya, bahawa puteri baginda itu merupakan lambang keagungan peribadi yang ditinggalkan di tengah umatnya.
Ketika masih kanak-kanak, Siti Fatimah Az Zahra r.a menyaksikan sendiri ujian-uijian getir yang dialami oleh ayah bondanya, baik berupa gangguan-gangguan, mahupun penganiayaan-penganiayaan yang dilakukan orang-orang kafir Quraisy. Siti Fatimah hidup di udara Makkah yang penuh dengan debu perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwah, keluarga yang menjadi pusat iman, hidayah dan keutamaan. Dia menyaksikan keteguhan dan ketegasan orang-orang mukmin dalam perjuangan gagah berani menghadapi komplot-komplot Quraisy. Suasana perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Siti Fatimah Az Zahra r.a dan memainkan peranan penting dalam pembentukan peribadinya, serta mempersiapkan kekuatan rohaniah bagi menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.

BAJU RASULULLAH S.A.W DAN SITI FATIMAH R.A



Saiyyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu... merupakan menantu kesayangan Nabi saw dan isterinya, Fatimah Az-Zahra pula merupakan puteri kesayangan Nabi saw..jika diikutkan budaya dan trend masyarakat moden hari ini maka kedudukan mereka sebagai anak dan menantu kepada Nabi saw seorang pemimipin.... seseorang yang berkuasa..yang memegang pemerintahan...yang memegang kekayaan negara sudah pasti mereka berdua hidup di dalam kemewahan dengan harta yang berlimpah.

Namun perkara itu tidak berlaku..kepada puteri dan menantu Nabi saw...apabila ada riwayat yang menyatakan bahawa mereka berdua hidup di dalam serba kesederhanaan...dan adakalanya berlapar perut kerana ketiadaan makanan.
Imam At-Tabari di dalam kitabnya Al-Ausad ada meriwayatkan suatu hadis :

قال عمران: فرأيت صفرة قد ظهرت على وجهها، وذهب الدم، فبسط رسول الله صلى الله عليه وسلم
بين أصابعه ثم وضع كفه بين ثدييها، فرفع رأسه فقال ﴿الله مشبع الجوعة، وقاضى الحاجة، ورافع الوضيعة، لا تجع فاطمة بنت محمد﴾.
فرأيت صفرة الجوع قد ذهبت عن وجهها، وظهر الدم، ثم سألتها بعد، فقالت ﴿ما جعت بعد ذلك أبدا﴾رواه الطبرانى فى الأوسط

Ertinya:

Menurut cerita Imran bin Husain, Pernah satu hari, Fatimah r.anha muncul di hadapan Rasulullah dengan wajah kekuning-kuningan dan pucat akibat kelaparan. Rasulullah lalu berkata, “Mari ke mari mendekati aku..wahai Fatimah.”
Kemudian Baginda saw berdoa, “Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.”

Fatimah Az-Zahra

Tahukah anda siapa Saidatina Fatimah? Saidatina Fatimah az-Zahra r.a. adalah puteri bongsu Rasulullah S.A.W, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bersama isteri tercinta Saidatina Khadijah Bin Khuwailid.
Beliau merupakan anak yang ke-empat Rasulullah S.A.W. yang mana dilahirkan pada penghulu hari iaitu hari Jumaat bersamaan 20 Jamadil Akhir. Saat kelahiran puteri kesayangan Rasulullah bertempatan dengan selesainya orang Quraisy membina Ka’bah. Kelahiran Saidatina Fatimah az-Zahra memberi kegembiraan kepada Rasulullah S.A.W. Baginda berkata kepada Saidatina Khadijah,
“Wahai Khadijah sesungguhnya dia (Fatimah) adalah manusia yang diberkati dan sesungguhnya Allah S.W.T memberi keturunuan darinya.”
Kegembiraan Rasulullah bertambah lagi dengan kemiripan Fatimah az-Zahra dengan baginda Rasulullah S.A.W dan direkod oleh Al-Hakim meriwayatkan daripada Anas Bin Malik r.a berkata,
“Sesungguhnya Fatimah az-Zahra adalah seorang yang sangat mirip dengan Rasulullah S.A.W. dengan memiliki kulitnya putih, bibirnya merah dan rambutnya hitam.”
Menurut Ummul Mukminin Ummu Salamah r.a :
“Fatimah az-Zahra adalah anak Rasulullah S.A.W. Dia adalah seorang yang memiliki perwatakan mirip dengan Rasulullah S.A.W.
Manakala daripada Aisyah Ummul Mukminin r.a berkata,
“Saya tidak pernah melihat seorang pun dari ciptaan Allah S.W.T. (manusia) yang serupa ucapan dan perkataannya dengan Rasulullah S.A.W. selain Saidatina Fatimah az-Zahra.”
Saidatina Fatimah az-Zahra memiliki banyak gelaran antaranya Az-Zahra, Ash-Shadiqah, Al-Batul dan Ummu Abiha. Tetapi gelaran paling dikenali ialah Az-Zahra yang mana gelaran ini diberikan oleh ayahandanya sendiri Rasulullah S.A.W. yang bermaksud bunga bagi Nabi S.A.W. kerana memiliki kulit yang putih. Diriwayatkan dari Ja’far Bin Muhammad Bin Ali r.a dari ayahnya berkata,
“Saya bertanya kepada Rasulullah tentang Fatimah, “Kenapa kamu menamakannya dengan Fatimah?” Baginda menjawab. “Kerana jika dia berdiri di mihrobnya dia akan memancarkan cahaya bagi penghuni langit sebagaimana bintang menyinari penghuni bumi.”
Walaupun Saidatina Fatimah anak Rasulullah S.A.W., beliau juga melayari kehidupan seperti bangsa arab lain dengan mengamal cara hidup yang sederhana serta tidak mendesak Rasulullah S.A.W memberi khadam kepadanya walaupun beliau hidup susah.

Bersederhana

Umum mengetahui Saidatina Fatimah Az-Zahra memiliki budi pekerti mulia kerana beruntung sejak kecil lagi diasuh dan dididik dengan akhlak mulia oleh ibubapanya Rasulullah S.A.W. dan Saidatina Khadijah bin Khuwailid. Saidatina Fatimah merupakan seorang yang sabar dan tabah menghadapi ujian hidup ini dapat dilihat semasa keperitan hidup yang dilalui yang mana mengamalkan konsep keserhanaan walaupun beliau puteri Rasulullah S.A.W. serta tidak tamak menggunakan harta Baitul Mal untuk kepentingan peribadi.

Taat Agama & Suami

Beliau juga seorang yang taat kepada agama dan suami. Beliau sentiasa menjaga maruah sebagai isteri, membantu suaminya melakukan kerja-kerja harian seperti menumbuk gandum, menguli tepung dan membakar roti serta tidak pernah ingkar suruhan suami, serta menyokong perjuangan dakwah suaminya iaiti Saidina Ali r.a.

Kisah Cinta Fatimah Az-zahra dan Ali Bin Abi Thalib

Sungguh beruntung bila diantara kita ada yang bisa mengikuti jejak cinta dari seorang Ali bin Abi Thalib RA dan istrinya Fathimah Az-Zahra RA. Karena keduanya adalah sosok yang memiliki cinta sejati yang mumpuni. Saling mengisi dan percaya dalam mengarungi bahtera kehidupan. Saling menenguhkan keimanan masing-masing kepada Allah SWT. Dan untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti kisah singkat tentang cinta sejati mereka:
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Namun, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

Halaman